Showing posts with label FILSAFAT. Show all posts
Showing posts with label FILSAFAT. Show all posts

Wednesday, June 22, 2011

MUHAMAD, HITLER & STALIN, apa bedanya ?
By : Ahmed Simon (eks ustadz)

Persamaan Hitler, Muhammad dan Stalin:

1 Bapak2 mereka mati/meninggalkan mereka ketika mereka masih kanak2

2 Ibu2 mereka juga mati muda. (Ibu Muhammad mati ketika ia berusia 4 thn. Kakeknya yg memungutnya juga mati dan pamannya mati juga. Betapa sengsaranya masa kecil si MO !) Kemungkinan besar, karena ia tidak pernah merasakan cinta kasih, iapun tidak mampu menunjukkannya.

3 Ketiganya mengalami masa kecil tidak bahagia.

4 Ketiganya mengalami masa remaja tidak bahagia.
(Ayah Stalin dan Hitler sangat kejam terhdp ibu2 mereka. Kami tidak tahu bgm kelakuan ayah Muhamad terhdp ibunya, tetapi kemungkinan besar ia juga sangat kejam, mengingat mental Arab utk menghantam isteri sampai babak belur dan memecut bini2 mereka spt onta/hewan. Bahkan onta mereka lebih disayangi dari bini mereka.)

5 Ketiganya dari keluarga mapan. (Muhamad bekerja bagi janda kaya dan setelah menikahinya spt OOM kaya mendadak.)

6 Ketiganya tidak berpendidikan (Disini juga, Muhamad paling parah nasibnya; ada yg mengatakan ia BUTA HURUF total !).

7 Ketiganya harus berjuang selama masa remaja mereka.

8 Ketiganya sempat interes kpd agama.

9 Ketiganya ditolak oleh agama yg ada selama hidup mereka.

10 Ketiganya kejam terhdp wanita pd umumnya.

11 Ketiganya arogan dan tidak pernah menerima kebenaran.

12 Ketiganya tidak pernah mengaku salah, walau bukti sudah menganga didepan moncong mereka.

13 Ketiganya menganggap wanita tidak punya otak.

14 Ketiganya memiliki hubungan dgn wanita yg tidak normal aneh dan absurd. Disini Muhamad paling jagoan, ia pedofil picisan yg menganggap diri nabi dan yg paling hebat : ia berhasil menghipnotis pengikutnya agar tidak perlu merasa risih dgn kelakuan minusnya itu.

15 Ketiganya tidak menunjukkan kasih kpd anak2.

16 Ketiganya memikirkan bunuh diri.

17 Ketiganya menggunakan kebiadaban, kapanpun sesuai dgn keinginan mereka.

18 Ketiganya egois, kejam dan tidak logis

19 Ketiganya menggunakan orang2 lain utk melakukan tindakan kejam mereka.

20 Ketiganya pandai berbohong secara mentah2.

21 Ketiganya berotak luar biasa kejam.

22 Ketiganya sangat licik dan menggunakan kekerasan utk mencapai tujuan mereka.

23 Ketiganya tidak dapat dipercaya. Mereka memutuskan perjanjian damai yg mereka tandatangani sendiri. (Kecuali Muhamad yg katanya buta huruf, tanda tangannya berupa 'X')

24 Ketiganya tidak menaruh hormat pada nyawa manusia ataupun nilai2 kemanusiaan.

25 Ketiganya sangat menaruh dendam, bahkan sampai hembusan nafas terakhir mereka.

26 Ketiganya tidak pernah menyesal, bahkan saat mendekati kematian.

27 Ketiganya tidak menunjukkan kecintaan yg besar.

28 Ketiganya sangat berpusat pada diri mereka sendiri dan sangat
egotistic.

29 Ketiganya memimpin pasukan2 besar.

30 Ketiganya melecehkan kekuasaan mereka dan menyebar ketakutan disekitar mereka.

31 Ketiganya MALING !

32 Ketiganya tidak memiliki kesadaran moral.

33 Ketiganya doyan menggenjoti wanita yg tidak mereka nikahi. Soal perzinahan, Muhamad lagi2 paling top dari ketiganya !

34 Ketiganya tanpa malu2 menikmati hasil kerja orang lain.

35 Ketiganya selalu sangat ketakutan dan curiga pada orang2 dekat mereka dan bahkan terhdp pendukung dan rekan2 sendiri.

36 Ketiganya meminjam sejarah utk mengabsahkan tindakan mereka.

37 Ketiganya naik pangkat lewat cara2 tidak manusiawi.

38 Ketiganya menjadi tiran saat berkuasa dan tangan mereka berlimpahan darah manusia.

39 Ketiganya membunuh orang2 dekat mereka.

40 Ketiganya sangat amat RASIS.

41 Ketiganya membenci Yahudi dan membunuh Yahudi dlm jumlah besar.

42 Ketiganya menenggelamkan negara2 mereka kedlm kerusuhan dan perang.

43 Ketiganya menuruh pembunuhan lelaki, wanita dan anak2 tidak bersalah.

44 Ketiganya mengatakan ditakdirkan bagi kebesaran, tetapi malah menjadi terkenal karena kelakuan super minus mereka.

45 Ketiganya mati dlm keadaan mengenaskan dan sengsara. (Disini juga Muhamad mengalahkan kedua saingannya. Dari ketiganya, hanya Stalin memiliki kuburan.)

46 Ketiganya memiliki jalan kehidupan yg membuat orang normal MUAK.

47 Ketiganya mati sambil mengingat wanita. (A. Muhamad ko'it dipangkuan isteri yg pantas jadi cicitnya itu, Aisha. B. Hitler dan Stalin tewas dgn foto2 ibu2 mereka dlm dompet mereka.) IRONIS !

48 Ketiga mati mendadak.

49 Ketiganya contoh paling buruk yg pernah berjalan di atas muka bumi ini.

50 Ketiganya diingat selama2nya karena kelakuan mereka yg tidak berperikemanusiaan, diluar batas, ajubileh kejamnya sampai susah membayangkannya dan IBLIS ASLI !

Kelakuan mereka itu sulit disetip, ditipp-ex dan disembunyikan dari lembaran2 sejarah. Terukir sudah kebengisan Muhamad, Stalin dan Hitler di benak2 kita sampai hari kiamat.

Oh ya, dan tidak satupun dari mereka masuk surga ditemani Ibu Teresa, Ibu RA Kartini, Paus Johanes, Mahatma Gandhi, para Dalai Lama, Pamela Anderson dsb dsb. Mereka kini di neraka jahanam bersama Khomeini, Arafat, Moh Atta, para suicide bombers, Azhari, Sadam Husein, Uday Husein, dsb dsb
SERGEANT PEPPER'S ONLY TYRANNICAL BAND:



STALIN : Mengakibatkan kematian rakyatnya sendiri di gulag2 Rusia ; 10 juta. Isterinya bunuh diri.


HITLER : Mengakibatkan kematian 6 juta Yahudi dan 6 juta rakyat lainnya termasuk orang Jerman sendiri. Isterinya dibunuh bersamanya.


MAO TSE TUNG, ternyata membunuh 77 juta rakyatnya sendiri. Isterinya dihukum mati oleh pemerintah pasca Mao.

http://www.worldnetdaily.com/news/article.asp?ARTICLE_ID=47616

POL POT, membunuh 1,7 juta rakyat Khmer (1/4 dari total penduduk)

Kekejamannya, kabarnya diakibatkan sakit hati ditinggali wanita yg dicintainya dan akhirnya dgn enggan menikahi isterinya yg 5 tahun lebih tua darinya.
http://www.rfa.org/english/news/politics/2006/05/07/cambodia_polpot/

Dan rekor masih dipegang uncle MO : KORBAN2NYA SAMPAI SEKARANG MASIH BERJATUHAN. Isteri ? REKOR man, dari segi jumlah maupun usia, tidak ada yg bisa menandatangani uncle MO, the playboy from padang pasir.
source
 

PERSAMAAN HITLER, MUHAMMAD, DAN STALIN


ISLAM POLITIK:
PEMBUNUH TERBESAR
SEGALA JAMAN

Studi ttg Islam Politis
(Political Islam)
By Jamie Glazov | FrontPageMagazine.com


Bill Warner adalah direktur pusat studi Islam Politis (The Center for the Study of Political Islam- CSPI). Tujuan CSPI adalah utk mengajarkan doktrin Islam politis lewat buku-bukunya dan kini telah menghasilkan sejumlah serial.

Wawancara dgn FRONTPAGEMAGAZINE

FP: Mr Warner, ceritakan sedikit ttg CSPI.

Warner: CSPI adalah sekelompok akademis yg membaktikan studi ilmiah mereka terhdp teks-teks fondasi Islam — Quran, Sirat Rasulullah (biografi ttg Muhammad) dan Hadis (tradisi Islam). Ada dua area studi Islam; doktrin & sejarah, atau teori dan hasilnya. Kita mempelajari sejarah utk melihat hasil di lapangan dari doktrin tsb.

CSPI nampaknya adalah kelompok pertama yg menggunakan statistic utk mempelajari doktrin tsb. Studi-studi ilmiah terhdp Quran sebelumnya hanya mengutamakan studi bahasa Arab. Prinsip pertama kita adalah bahwa Quran, Sirat & Hadis harus diambil sbg satu keseluruhan. Kita menyebutnya ‘Trilogi Islamik’ utk menekankan kesatuan teks-teksnya.

Hasil kesimpulan kita yg paling utama adalah bahwa DUALISME adalah fondasi dan kunci utk mengerti Islam. Islam selalu mengandung dua arti, dimulai dgn deklarasi pendiriannya: (1) tiada tuhan selain Auwloh dan (2) Muhammad adalah rasul auwloh. Oleh karena itu, Islam adalah Auwloh (Quran) dan Sunnah (perkataan dan perbuatan Muhammad ditemukan dlm Sirat dan Hadis).

Orang tidak habis-habisnya membahas: islam agama damai, atau ideologi radikal? Muslim moderat = muslim asli?

Kunci pertama ttg dualisme dlm Quran, yg sebenarnya terdiri dari dua buku, yaitu Quran dari Mekah (selagi Muhamad belum berkuasa, masa-masa dini Muhamad) dan Quran Medinah (setelah Muhamad berkuasa). Utk mengerti logika Quran kita harus melihat jumlah besar kontradiksi yg dikandungnya. Dipermukaan, islam mengatasi dualisme itu dgn melakukan prinsip yg dinamakan “abrogasi”. Ini berarti bahwa ayat-ayat yg ditulis belakangan membatalkan ayat-ayat yg lebih dini. Namun karena Quran dianggap pernyataan sempurna Auwloh, kedua versi Quran itu (baik versi Mekah maupun Medinah) dianggap benar dan sakral. Ayat belakangan dianggap “lebih baik,” namun ayat dini juga tidak dapat dikatakan salah, karena Auwloh dianggap sempurna. Inilah dasar-dasar DUALISME. Kedua versi adalah ‘benar.’ Kedua sisi yg kontradiktif ini dianggap benar dlm logika dualisme. Penggunaan ayat-ayat tsb tergantung keadaan.

Contoh:
(Quran Mekah) [73.10] Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.

Namun dari ayat toleransi diatas itu, kita kini beralih ke ayat paling intoleran; tiba-tiba sang Pencipta Alam Semesta benci benar dgn kafir:

(Quran Medinah) [8.12] ... Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggauwloh kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.

Logika Barat didasarkan pada hukum kontradiksi—kalau dua hal bertentangan (kontradiksi), maka paling tidak satu mestinya salah. Namun logika Islam adalah DUALISTIK; dua hal bisa saling kontradiksi dan keduanya benar.

Tidak ada sistem dualistis yg bisa diukur oleh satu jawaban. Inilah alasan mengapa argumen ttg mana Islam “yg benar” tidak akan pernah selesai, karena memang tidak ada satu jawaban.

Sistem dualistis hanya bisa diukur dgn STATISTIK.

Contoh, mari kita lihat pertanyaan ini: apa sih sebenarnya jihad? Perjuangan batin atau perang? Nah, mari kita lihat hadis Bukhari, karena ia berulang-ulang berbicara ttg jihad. Dlm Bukhari, 97% rujukan jihad adalah ttg perang dan 3% ttg perjuangan batin. Jadi, jawaban statistiknya adalah jihad = 97% perang dan 3% = perjuangan batin. Apakah jihad = perang? Ya 97%. Apakah jihad = perjuangan batin ? Ya - 3%. Yang mana yg benar dan harus diikuti, yang 3 persen atau yang 97 persen?

Jadi, dlm setiap argumen ttg Islam, jawabannya adalah selalu : kedua-duanya benar. Kedua sisi dualisme itu betul.

FP: Menurut anda, mengapa Barat begitu tidak tahu menahu ttg sejarah dan doktrin Islam Politis?

Pertama, mari kita lihat betapa bodohnya kita ttg sejarah Islam Politik. Berapa Kristen yg tahu ttg Islamisasi Turki atau Mesir? Apa yg terjadi dgn ke Tujuh Gereja Asia yg disebut dlm Surat Paulus?

Seorang agen FBI hanya mendapatkan dua jam pendidikan ttg Islam, dan kebanyakan isinya adalah bagaimana agar jangan membuat sakit hati si imam. Kita sedang berperang di Iraq. Siapa yg memanfaatkan doktrin politik, militer Islam utk merancang strategi? Mana ada rabbi atau pendeta yg pernah membaca Quran, Sirat atau Hadis? Gubernur, senator, anggota kongres atau pemimpin militer mana yg menunjukkan pengetahuan ttg doktrin politik Islam? Silahkan anda mencari kursus di universitas ttg doktrin politik an etika Islam. Paling-paling mereka belajar ttg seni Islam, arkitektur, sastra, sufisme dan sejarah kejayaan yg sama sekali tidak menyinggung penderitaan para kafir (non-muslim) yg tidak bersalah. Paling-paling para siswa membaca KOMENTAR ttg Quran dan Hadis, tetapi tidak pernah membaca doktrin itu sendiri. Tanyakan kpd seorang Yahudi ttg sejarah dhimmisasi Yahudi (dhimmi = warga kelas dua dlm negara Islam).

Tahukah orang Eropa bahwa para perempuan Eropa yg dijual sbg budak di Mekah paling mahal harganya?

Semua orang tahu berapa banyak Yahudi yg dibunuh Hitler, tetapi tolong carikan seorang kafir yg bisa mengatakan berapa orang yg tewas dlm jihad selama 1400 tahun ini.

Islam adalah pembunuh terbesar sepanjang masa, jauh lebih parah dari fasisme, komunisme, ataupun sistem kepercayaan (agama) manapun: Jihad menghancurkan Timur Tengah dan Afrika yg tadinya KRISTEN. Kemudian menyusul orang Zoroastria di Persia dan korban jihad Hindu. Sejarah politik Islam adalah sejarah destruksi terhadap Kristen di Timur Tengah, Mesir dan Afrika Utara. Setengah dari dunia Kristen hilang dimakan Islam.

Sebelum Islam, Afrika Utara merupakan Eropa bagian selatan, bagian dari Kerajaan Romawi. Sekitar 60 juta Kristen dibantai selama operasi-operasi jihadi. Setengah dari kejayaan peradaban Hindu di-anihilasi dan 80 juta Hindu tewas. Pengikut Budha dari Barat adalah orang Yunani yg merupakan keturunan tentara Iskandar Zulkarnaen (Alexander the Great) di apa yg sekarang merupakan Afghanistan. Jihad menghancurkan semua jejak-jejak Buddhisme di sepanjang jalan sutera.

10 juta Buddhis mati. Pencaplokan Buddhisme adalah hasil dari pasifisme. Zoroastrianisme kemudian di-eliminasi dari Persia. Yahudi menjadi dhimmi permanen di kawasan Islam manapun di dunia. Di Africa, lebih dari 120 juta Kristen dan animis tewas dlm 1400 tahun jihad.

JADI, kira-kira 270 juta kafir tewas dlm 1400 thn belakangan ini demi kejayaan Islam Politis. Inilah Tetesan Air Mata Jihad (Tears of Jihad) yg tidak pernah diajarkan di sekolah.

FP: Seberapa jauh perbedaan budaya kita dgn budaya Islam?

Warner: Istilah “humanitas” tidak memiliki arti dlm Islam. Mereka tidak mengenal humanitas. Yang ada hanyalah DUALITAS ANTARA KAUM BERIMAN DAN KAFIR. Simaklah sendiri pernyataan etika dlm hadis: seorang Muslim tidak boleh bohong, menipu, membunuh atau mencuri dari Muslim lain. Tapi seorang Muslim boleh menipu, membunuh atau mencuri seorang kafir (non-muslim), kalau berguna bagi Islam.

Tidak ada yg namanya pernyataan universal ttg etika dlm Islam. Muslim diperlakukan dgn cara berbeda dari NON-Muslim. Satu2nya pernyataan etika universal Islam adalah bahwa seluruh dunia harus tunduk pada Islam. Setleah Muhammad menjadi nabi, ia tidak pernah memperlakukan kafir sederajad dgn Muslim. Islam tidak mengenal prinsip the Golden Rule.

THE GOLDEN RULE
Nah, etika dualistik inilah yg menjadi dasar jihad. Sistem etika Islam menganggap kafir (non-muslim) sbg mahluk yg derajadnya dibawah Muslim, dan oleh karena itu tidak sulit utk membunuh, melukai atau menipu sang kafir. The ethical system sets up the unbeliever (kafir) as less than human and therefore, it is easy to kill, harm or deceive the unbeliever.

Memang ada kalanya non-muslim sendiri lupa menerapkan prinsip-prinsip the Golden Rule, tetapi dgn Golden Rule itu juga kita akan ditindak. Kelakuan kita tidak sempurna, tapi paling tidak itulah prinsip ideal kita.

Klu Klux Klan (KKK) misalnya, bisa disebut sbg dualisem simplistic. Anggota KKK membenci semua orang kulit hitam pada setiap saat; hanya ada satu pilihan. Dan mereka paling tidak terus terang dan mereka juga tidak sulit dikenali.

Bedanya dgn dualisme Islam adalah bahwa Islam lebih bersifat menipu dan menawarkan dua cara ttg bgm memperlakukan kafir (non-muslim). Si kafir bisa diperlakukan dgn baik, spt cara petani memperlakukan hewan piaraannya. Jadi Islam bisa saja “manis”, tapi kafir tidak sedikitpun atau tidak pernah sekalipun bisa dianggap sbg “saudara” atau teman. Malah ada sekitar 14 ayat dlm Quran yg jelas-jelas menyatakan bahwa seorang Muslim tidak pernah akan menjadi kawan seorang kafir. Seorang Muslim bisa saja “bersahabat,” tetapi ia tidak pernah menjadi seorang sahabat sejati. Dan begitu seorang Muslim menjadi sahabat sejati seorang NON-Muslim, di mata Quran ia bukan lagi Muslim, tetapi orang munafik.

FP : Jadi, adakah yg dinamakan Islam yg NON-politis?

Warner: Islam non-politis adalah Islam religius. Islam religius adalah apa yg dilakukan seorang Muslim utk menghindari neraka dan pergi ke surga. Muslim harus menjalankan kelima rukun : sahadat, solat, zakat, puasa, haji.

Namun Trilogy Islam sangat jelas ttg doktrinnya. Paling tidak 75% dari Sirat (kehidupan Muhamad) adalah ttg jihad. Sekitar 67% Quran yg ditulis di Mekah adalah ttg kafir, atau politik. Dari Quran di Medinah, 51% didedikasikan kpd rasa benci thd kafir. Sekitar 20% hadis Bukhari adalah ttg jihad dan politik. Agama hanya bagian yg paling kecil dari teks fondasi Islam.

Dualitas Islam Politis yg paling tersohor adalah divisi dunia kedalam wawasan kaum beriman atau Darul Islam, dan wawasan kafir atau Darul Harb. Bukan Darul Kafir, tapi darul Harb (HARB = PERANG). Bagian terbesar dari Trilogi Islam menyangkut perlakuan terhdp kafir. Bahkan neraka Islam bersifat politis. Dlm Quran terdpt 146 rujukan kpd neraka. Hanya 6% alasan neraka adalah bagi mereka yg melakukan dosa moral spt pembunuhan, pencurian, zinah dsb. Sisanya yg 94% ke neraka karena alasan dosa berpikir, yaitu tidak setuju dgn Muhamad, persis spt tindak kejahatan politik. Jadi, neraka Islam adalah sebuah penjara politik bagi mereka yg berani membuka mulut menentang Islam.

Muhammad mengajarkan agamanya selama 13 tahun dan hanya mengumpulkan 150 pengikut. Tetapi begitu ia beralih kpd politik dan perang, dlm 10 tahun ia menjadi penguasa pertama jazirah Arab dng melakukan kekerasan setiap sekali dlm 7 minggu selama 9 tahun. Ia sukses bukan sbg pemimpin agama, namun sbg pemimpin politik. Pendeknya, Islam politis adalah ttg bgm memperlakukan kafir.

FP: Bisakah anda menguraikan sedikit ttg sejarah Islam Politis?

Warner: Sejarah Islam politis dimulai dgn hijrah Muhammad ke Medinah. Sejak titik itu, Islam mendapatkan pengikut lewat sistem pilihan dualistiknya, yaitu bergabung dgn sebuah agama jaya atau menjadi obyek penindasan politik dan kekerasan. Setelah hijrah ke Medinah, dan undangan halus masuk Islam tidak diterima, Islam menjadi bengis. Sejak itu, lahirlah Jihad.

Setelah kematian Muhammad, Abu Bakr, kalif pertama, menetapkan argumen teologis bagi mereka yg meninggalkan Islam, yaitu mati oleh pedang. Jihad Umar (kalif kedua) menggebrak dunia non-muslim. Jihad menghancurkan Timur Tengah dan Afrika Utara yg kedua-duanya didominasi Kristen. Korban jihad setelah itu adalah kaum Zoroastria Persia dan kaum Hindu India.

Spt sudah saya jelaskan diatas, sejarah Islam Politis adalah penghancuran Kristen di Timur Tengah, Mesir, Turki dan Afrika Utara. Setengah dari kekuasaan Kristen pupus ditindas islam. Sebelum Islam, Afrika Utara adalah bagian selatan Eropa (bagian dari Kerajaan Romawi). Sekitar 60 juta Kristen dibantai dlm invasi jihad ini.

Setengah kebudayaan megah Hindu di-anihilasi dan 80 juta Hindu tewas. Kaum Budha Barat pertama adalah orang Yunani keturunan tentara Alexander the Great (Iskandar Zulkarnaen) dlm apa yg sekarang dinamakan Afghanistan. Jihad menghancurkan Buddhisme disepanjang jalan sutera. Sekitar 10 juta Buddis tewas. Invasi terhdp Buddhisme diakibatkan pasifisme Budhis.

Zoarasterianisme hilang tanpa bekas dari Persia. Dan orang-orang Yahudi selama berkuasanya Islam menjadi kaum dhimmi permanen. Di Afrika sekitar 120 juta Kristen dan animis mati selama 1400 tahun-tahun jihad. Sekitar 270 juta non-muslim tewas dlm 1400 tahun kejayaan Islam Politis.

Apa kini isu yg paling memecah dlm politik saat ini? Iraq. Apa arti Iraq sebenarnya? Islam Politis.

FP: Bisakah anda rangkum alasan pentingnya bagi kita utk belajar doktrin Islam politis.

Warner: Islam Politik telah meng-anihilasi setiap budaya yg diinvasi atau yg didatanginya (lewat imigrasi). Waktu total anihilasi ini memang bisa memakan waktu berabad-abad, tetapi sekali Islam hadir, mereka tidak pernah gagal. Budaya negara asli akan hilang dan punah.

Kalau kita ingin survive, kita harus tahu betul doktrin Islam Politis. Doktrinnya sangat jelas bahwa semua bentuk bujukan maupun kekerasan harus digunakan utk menjajah kita. Islam menyatakan diri sbg musuh semua NON-Muslim. Filsuf Cina ttg perang, Sun Tzu, berkata—kenalilah musuhmu. Kita harus kenal doktrin musuh kita atau kita akan di-anihilasi. Persis spt budaya Koptik Mesir atau Zoroastria Iran atau Bizantin Turki.

Islam telah menyatakan kita sbg musuh-musuh Auwloh. Kalau kita tidak belajar ttg doktrin politik Islam, nasib kita akan sama persis dgn korban-korban pertama Islam — orang Arab politheis Arabia yg tadinya sangat toleran, yg kemudian menjadi kaum WAHABI, budaya yg paling tidak toleran dimuka bumi ini. 

source 

ISLAM POLITIK: PEMBUNUH TERBESAR SEGALA JAMAN



MENGUAK MITOS
KONTRIBUSI ISLAM
TERHADAP SAINS

REVIEW BUKU :
BAGAIMANA SAINS YUNANI
SAMPAI KEPADA MUSLIM?
(How Greek Science Passed to the Arabs )

By De Lacy O'Leary D.D.
Review :
Muslim Arab membawa pengetahuan Yunani versi Arab ke Spanyol, dari sana dibuat terjemahan ke bahasa latin dan menyebar ke seluruh Eropa. Pengetahuan Yunani telah membawa Eropa dari masa kegelapan ke jaman renaissance.
Menurut O’Leary , pengetahuan Yunani telah ada di seluruh dunia jauh sebelum dicapai oleh orang Arab, dan selama periode itu ia telah menyebar luas ke semua arah. Maka tidak mengejutkan kalau itu mencapai orang-orang Arab lebih dari satu rute. Ia datang pertama kali melalui penulis, sarjana, dan ilmuwan Kristen Syriac. Kemudian orang-orang Arab mempelajari secara langsung dari sumber Yunani aslinya dan mempelajari kembali apa yang telah mereka pelajari, mengkoreksi dan memverifikasi pengetahuan awal. Kemudian datang saluran ke dua dari transmisi tidak langsung melalui India, karya matematika dan astronomy, semuanya dikembangkan oleh sarjana India, tapi pastinya materi yang dikembangkan dari Alexandria ada pada tempat pertama. Materi ini sampai ke India melalui rute laut yang menghubungkan Alexandria dengan barat laut India. Kemudia ada juga jalur lintasan lain sampai India yang kelihatannya berawal dari kerajaan Yunani Bactria, salah satu Negara di Asia yang didirikan oleh Aleksander Agung, dan sebuah rute darat yang dibiarkan terbuka lama antara Yunani dan Asia Tengah, khususnya kota Marw, dan ini barangkali berhubungan dengan perantaraan Buddhist yang suatu waktu mempromosikan hubungan antara Barat dan Timur, meskipun Buddhism sebagai suatu agama tergeser ke Timur Jauh ketika orang-orang Arab mancapai Asia Tengah. [pages 2-3].
Bab II menjelaskan sejarah bagaimana Asia Barat termasuk dalam pengaruh Yunani.
Bab III mendiskusikan Gereja Kristen. Kutipan yang menarik ada di pasal bagian paling akhir :
Masih diperdebatkan apakah Muhammad berhutang paling banyak kepada Yahudi atau Kristen, tampaknya dia berhutang sebagian besar terhadap keduanya. Tetapi ketika kita sampai ke periode 'Abbasid ketika literature dan sains Yunani mulai masuk ke pemikiran orang Arab, tidak ada pertanyaan lagi. Warisan Yunani di teruskan oleh Gereja Kristen [page 46]. Pasal ini dengan sendirinya mengarah ke Bab IV, berjudul Nestorians. Dalam pasal ini O'Leary mediskusikan kontribusi Nestorian dalam transmisi pengetahuan Yunani kepada orang-orang Arab. Pendek kata, meskipun banyak madzhab "Nestorians" (Assyrian Church of the East –Orthodox Syriac) didirikan, termasuk madzhab Edessa, Nisibis, dan Jundi-Shapur, karya-karya Yunani diterjemahkan ke Syriac (Aram) menggunakan kurikulum. Karya-karya itu termasuk Theophania, Martyrs of Palestine, dan Ecclesiastical History by Eusebius; the Isagoge of Porphyry ( sebuah introduksi ke logika); Aristotle's Hermeneutica dan Analytica Priora; dan banyak-banyak lagi. O’Leary menyatakan :
Pada pokoknya Hibha (seorang Nestorian) memperkenalkan logika Aristotelian untuk menggambarkan dan menjelaskan pengajaran theologia dari Theodore, Mopseustia, dan logika itu tinggal secara permanent pada introduksi study theology di semua pengajaran Nestorian. Pada akhirnya logika Aristotelian, dengan kedoktean Yunani, astronomy, matematika, diteruskan kepada orang-orang Arab. [page 61]
Later, O'Leary menyatakan:
Misi-misi Nestorian berkembang ke Selatan dan mencapai Wadi l-Qura', sedikit ke Timur Laut Medina, sebuah pos terdepan Romawi yang ditinggali, bukan oleh tentara Romawi, tetapi oleh bala bantuan suku-suku Qoda. Di masa Muhammad sebagian besar dari suku ini adalah Kristen, dan seluruh wadi bertebaran biara-biara, sel-sel, dan pertapaan-pertapaan. Dari sini sebagai markas besar para rahib Nestorian mengembara ke seluruh Arabia, mengunjungi bazaar-bazar besar dan berkotbah kepada yang ingin mendengarkan mereka. Tradisi mengatakan bahwa Muhammad muda pergi ke Syria dan dekat Bostra dikenali sebagai yang ditakdirkan menjadi nabi oleh seorang rahib bernama Nestor (Ibn Sa'd, Itqan, ii, p. 367). Barangkali ini menunjuk beberapa kontak dengan rahib Nestorian. Kubu utama Kristen di Arabia adalah kota Najran, tetapi utamanya adalah Monophysite (lawan Nestorian). Apa yang disebut Ka’ba mereka (maksudnya Ka’ba di Najran bukan yang di Mekkah, kerena Ka’bah pra Islam tidak hanya satu -mm) kelihatannya adalah sebuah katedral Kristen [page 68]. Tetapi hubungan yang sangat pasti antara Nestorian dan orang Arab melalui Jundi-Shapur. O'Leary menyatakan :
Dari waktu Maraba ke depan berlanjut secara wajar penterjemahan dari karyaYunani dan dalam logka Aristotelian. [page 70]
Beberapa contoh adalah :
Maraba II, mahir dalam Philosophy, medicine, dan astronomy, dan juga belajar kebijaksanaan Persia, Yunani, Ibrani, menulis sebuah komentar (dalam Syriac) mengenai Dialektika Aristoteles.
Shem'on of Beth Garmai menterjemahkan Eusebius' Ecclesiastical History.
Henan-isho' II, Catholicos (Patriach) dari 686 ke 701, menyusun komentar (kembali dalam Syriac) pada Analitika Aristoteles.
Awalnya didirikan sebagai kamp tahanan, Jundi-Shapur mempunyai penduduk yang berbahasa Yunani, Syriac, dan Persia. Tetapi dalam berjalannya waktu semua bimbingan akademis di atur dalam bahasa Syriac [page 71].Ini menarik kerena meskipun orang Jundi-Shapur berbicara bahasa Khuzistan, yang adalah bukan Syriac, Ibrani atau Parsi, bahasa yang digunakan di kelas adalah Syriac,” jelaslah dari fakta itu terjemahan ke Syriac dibuat untuk keperluan kuliah.
Akhirnya, O'Leary menyatakan dalam penutupan Bab III :
Ketika Bagdad didirikan pada tahun 762 khalifah dan istananya menjadi tetangga dekat dari Jundi-Shapur, dan segera istana yang menyetujui beberapa toleransi mulai menarik dokter-dokter dan guru-guru Nestorian dari akademi, dan dalam hal ini menteri Harun ar-Rashid Ja'far Ibn Barmak agen pertama, bekerja dengan seluruh kekuatan untuk mengintroduksi sains Yunani di antara orang-orang nya Khalifah, orang-orang Arab dan Persia. Sikap kuat pro Yunaninya kelihatannya berasal dari Marw, dimana keluarganya tinggal sesudah pindah dari Balkh, dan usahanya dia dibantu oleh Jibra'il dari keluarga Bukhtyishu' (keluarga Assyrian terkenal yang memproduksi 9 generasi dokter-dokter ) dan para penerusnya dari Jundi-Shapur. Dus warisan sains Yunani Nestorian lewat dari Edessa and Nisibis, melalui Jundi-Shapur, ke Baghdad. . [page 72].
Bab IV mendiskusikan Monofisit (Jacobite atau Syrian –bukan Syriac- Orthodox Church). Sejarah Monofisit secara mendetail di kupas. Salah satu penterjemah monofist adalah Sergius dari Rashayn [page 83]. Yang lain adalah Ya'qub of Surug, Aksenaya (Philoxenos), lulusan madzhab Edessa, Mara, bishop of Amid.
Bab VII dan VIII mendiskusikan pengaruh India lewat rute laut dan darat, meskipun sedikit dibandingkan dengan kontribusi Nestorian dan Monofisit. Dalam kaitannya dengan Buddhist di bicarakan dalam Bab IX.
Bab X dan XI adalah berkenaan dengan sejarah dan sedikit mengenai bagaimana pengetahuan Yunani disebarkan ke orang-orang Arab.
Bab XII mendiskusikan berbagai penterjemah-penterjemah mula-mula. Ini termasuk :
Abu Mahammad Ibn al-Muqaffa', seorang Persia yang pindah ke Islam, meskipun banyak yang percaya konversi-nya (perpindahan agamanya) tidak tulus. Dia menterjemahkan dari Persia kuno ke bahasa Arab Kalilag wa-Dimnag, yang merupakan sebuah terjemahan hasil karya seorang Buddhist yang dibawa kembali dari India (bersama dengan permainan catur) oleh Assyrian Budh.
Al-Hajjaj Ibn Yusuf Ibn Matar Al-Hasib, seorang Arab, diketahui dari namanya yang menterjemahkan Almagest dan Euclid's Elements.
'Abd al-Masih Ibn 'Aballah Wa'ima al-Himse, juga seorang Assyrian, yang menterjemahkan Theology Aristoteles.
Abu Yahya al-Batriq, Assyrian yang lain, yang menterjemahkan Ptolemy's Tetrabiblos.
Jibra'il II, anak Bukhtyishu' II, dari kalangan keluarga medis terkemuka Assyrian .
Abu Zakariah Yahya Ibn Masawaih, seorang Nestorian Assyrian. Dia mengarang sebuah text book mengenai Ophthalmology, Daghal al-'ayn (Penyakit Mata).
Hunayn Ibn Ishaq, seorang Assyrian, anak seorang apoteker Nestorian, yang merupakan penterjemah terkemuka pada masanya; O'Leary menyatakan: Banyak penterjemah dari generasi berikutnya menerima training dari Hunayn atau muridnya, maka dia berdiri sebagai penterjemah “leader”, meskipun beberapa dari versinya kemudian direvisi oleh penulis kemudian. Kurikulum komplit dari sekolah kedokteran Alexandria dengan begitu tersedia bagi mahasiswa Arab. Termasuk seri pilihan dari risalah Galen:
1. De sectis
2. Ars medica
3. De Pulsibus ad tirones
4. Ad Glauconem de medendi methodo
5. De ossibus ad tirones
6. De musculorum dissectione
7. De nervorum dissectione
8. De venraum arteriumque dissectione
9. De elementis secumdum Hippocratem
10. De temperamentis
11. De facultatibus naturalibus
12. De causis et symptomatibus
13. De locis affectis
14. De pulsibus (four treatises)
15. De typis (febrium)
16. De crisibus
17. De diebus decretoriis
18. Methodus medendi
[pages 166-167]
Namun untuk semua kontribusinya, Hunayn tidak selalu diperlakukan baik oleh Khalifah. Dalam suatu kejadian, Khalifah Mutawakkil memerintahkan Hunayn untuk menyiapkan racun untuk musuh Khalifah. Ketika Hunayn menolak, Khalifah melemparkan dia ke penjara. [page 168]
Anak Hunayn Ishaq juga berkontribusi, juga kemenakan laki-lakinya Hubaysh Ibn Al-Hasan. Hubaysh menterjemahkan text Hippocrates dan karya botani dari Dioscorides, “yang menjadi dasar pharmacopoeia Arab” [page 169]. Murid Hunayn yang lain adalah 'Isa Ibn Yahya Ibn Ibrahim. Tentu saja “sebagian besar ilmuwan generasi penerus adalah murid Hunayn “. [page 170].
Penterjemah yang lain termasuk :
Yusuf al-Khuri al-Qass, menterjemahkan karya yang hilang dari Archemides mengenai segitiga dari sebuah versi Syriac. Dia juga membuat sebuah Galen's De Simplicibus temperamentis et facultatibus berbahasa Arab.
Qusta Ibn Luqa al-Ba'lbakki, seorang Kristen Syria, yang menterjemahkan Hypsicles, Theodosius' Sphaerica, Heron's Mechanics, Autolycus Theophrastus' Meteora, Galen's catalog of his books, John Philoponus on the Phsyics of Aristotle dan beberapa karya lain. Dia juga merevisi terjemahan Euclid yang sudah ada.
Abu Bishr Matta Ibn Yunus al-Qanna'i, yang menterjemahkan Aristotle's Poetica
Abu Zakariya Yahya Ibn 'Adi al-Mantiqi, seorang monofisit, yang menterjemahkan karya medis dan logis, termasuk Prolegomena Ammonius.
Untuk ini mungkin ditambahkan Al-Hunayn Ibn Ibrahim Ibn al-Hasan Ibn Khurshid at-Tabari an-Natili, dan seorang monofisit Abu 'Ali 'Isa Ibn Ishaq Ibn Zer'a.
Kesimpulan yang jelas yang dapat ditarik dari buku O'Leary adalah bahwa Assyrian (non Muslim ) memegang peranan yang penting dalam membentuk dunia Islam via kumpulan pengetahuan Yunani.

=====================
First published in Great Britain in 1949, by Routledge & Kegan Paul Ltd. Reprinted three times. This edition first published in 1979 by Routledge & Kegan Paul Ltd. 39 Store Street, London WC1E7DD,
Broadway House, Newtown Road, Henley-on-Thames, Oxon RG91EN and 9 Park Street, Boston, Mass. 02108, USA. Printed in Great Britain by Caledonian Graphics Cumbernauld, Scotland.
ISBN 0 7100 1903 3
Assyrian International News Agency - Books Online
Review ini disalin dari aina.org
Table of Contents
I Introduction
II Helenism in Asia
1. Hellenization of Syria
2. The Frontier Provinces
3. Foundation of Jundi-Shapur
4. Diocletian and Constantine
III The Legacy of Greece
1. Alexandrian Science
2. Philosophy
3. Greek Mathematicians
4. Greek Medicine
IV Christianity as a Hellenizing Force
1. Hellenistic Atmosphere of Christianity
2. Expansion of Christianity
3. Ecclesiastical Organization
V The Nestorians
1. First School of Nisibis
2. School of Edessa
3. Nestorian Schism
4. Dark Period of the Nestorian Church
5. The Nestorian Reformation
VI The Monophysites
1. Beginning of Monophysitism
2. The Monophysite Schism
3. Persecution of the Monophysites
4. Organization of the Monophysite Church
5. Persian Monophysites
VII Indian Influence, I: The Sea Route
1. The Sea Route to India
2. Alexandrian Science in India
VIII Indian Influence, I: The Sea Route
1. Bactria
2. The Road Through Marw
IX Buddhism as a Possible Medium
1. Rise of Buddhism
2. Did Buddhism Spread West?
3. Buddhist Bactria
4. Ibrahim Ibn Adam
X The Khalifate of Damascus
1. Arab Conquest of Syria
2. The Family of Sergius
3. The Camp Cities
XI The Khalifate of Baghdad
1. The 'Abbasid Revolution
2. The Foundation of Baghdad
XII Translation Into Arabic
1. The First Translators
2. Hunayn Ibn Ishaq
3. Other Translators
4. Thabit Ibn Qurra
XIII The Arab Philosophers
source

MENGUAK MITOS KONTRIBUSI ISLAM TERHADAP SAINS

FILSAFAT G.W.F. HEGEL

A.PENDAHULUAN
Filsafat merupakan suatu analisis secara hati-hati terhadap penalaran tentang suatu masalah serta penyusunan secara sengaja dan sistematis tentang suatu sudut pandang yang menjadi dasar suatu tindakan.
Di antara sekian banyak filosof yang menyusun suatu system metafisika salah satunya adalah G.W.F. Hegel. Ia adalah salah satu filosof yang menerima prinsip pertama bahwa dasar makna kenyataan adalah manusia.
Atas dasar motivasi untuk mengenal pemikiran hegel secara lebih dekat, kami akan mengkaji hal-hal seputar riwayat kehidupan, produtifitas keilmuan , garis besar keilmuannya, terutama rasioanlisme,.

B.BIOGRAFI HEGEL
George Wilhelm Friedrich Hegel, demikian nama aslinya, lahir di Stuttgart pada 27 Agustus 1770. Belajar teologi di Universitas Tubingen hingga meraih doktor pada 1791. Ketika itu, karya tulisnya masih bertaut dengan agama Kristen, misalnya The Life of Jesus dan The Spirit of Chiristiany (Tafsir, 2004: 152). Hegel mulai menekuni filsafat ketika pada 1801 bertemu dengan Schelling di Universitas Jena, dan turut mengajar mata kuliah Filsafat di sana, hingga jerih payahnya membuahkan karya filsafat pertama berjudul The Difference Between Fichte’s and Schelling’s Systems of Philosophy.
Dari sinilah Hegel menjadi seorang filsuf ternama yang dihasilkan Jerman sebagai sebuah tempat yang layak bagi lahirnya beberapa filsuf terkenal dan berpengaruh. Di samping Immmanuel Kant, Hegel memiliki konsistensi dalam berfikir dan kapabilitas rasio yang mampu menterjemahkan hidup dalam bentuk rumus dialektikanya yang terkenal. Filsafat Roh yang merupakan karakternya, yang dia akui merupakan hasil sintesa antara pemikiran Fichte dan Schelling di zaman pertumbuhan filsafat idealisme Jerman abad-19. Dia cenderung memaknainya sebagai Roh Mutlak atau Idealisme Mutlak. Kemudian Hegel meninggal pada 14 November 1831 yang kemungkinan kematiaannya disebabkan karena terkena wabah kolera pada saat itu
C. MENGENAL KONSEP DASAR FILSAFAT HEGEL
Fisafat Hegel dikenal sebagai filsafat yang sangat sulit, karena Hegel banyak mengunakan istilah-istilah yang terlalu teknis dan terkenal ektrem. Di samping itu Hegel senang mengunakan hal-hal yang paradoks.hegel yakin bahwa hukum paradoks adalah hukum realitas, sebagaimana hukum pemikiran. Ambisi Hegel adalah menyusun suatu system filsafat sintesis.hegel berusaha pula menyatukan ilmu dan filsafat abad XIX.
1. RASIONALISME HEGEL
Realitas bagi hegel adalah ruh, dan ala saemesata dalam beberapahal adalah prodok dan pikiran sehingga hal it dapat dimengerti oleh pikiran. Dengan demikian filsafat hegel lebih tepat dikarakteristikkan dengan julukan “rasionalis”.
Dictum hegel yang terkenal adalah“Semua yang real bersifat rasional dan semua yang rasional bersifat real”. Pernyataan Hegel ini, cukup beralasan karena ia memulai pandangan metafisiknya dari rasio. “Ide yang bisa dimengerti” itu setali tiga uang dengan “kenyataan”. Selalu mengalami proses dialektika (Hamersma, 1983: 42). Tentu karena ia seorang idealis, pandangan akan urgensitas rasio ini begitu mendominasi dalam setiap jejak filsafatnya. Namun, perlu diuraikan, bahwa rasio disini bukan bermakna rasio manusia perseorangan, sebagaimana mengemuka dalam pandangan kita selama ini, melainkan rasio subyek absolute yang menerima kesetaraan ideal seluruh realitas dengan subyek. Kesetaraan antara “rasio” atau “ide” dengan “realitas” atau “ada”. Dan realitas utuh, sebagaimana dikehendaki Hegel, adalah proses pemikiran (idea) yang terus menerus memikirkan, dan sadar akan dirinya sendiri.
Karena pentingnya peranan akal , logika menduduki tempat penting dalam filsafat hegel..logika didefinisikannya sebagai ilmu ide murn. Atau sebagai ilmui pikiran yang meluputi hukum-hukum dan karakteristik bentuk-bentuknya. Kebenaran logika berkaitan dengan masalah dasar yang ada. Sebab persoalan yang ada dianggap sebagai pemula dan akhir filsafat. Jadi logika hegel pendeknya dapat disebut sebagai ontology. Logika ini sangat berlainan dengan pengertian logika tradisional yang basis dasarnya adalah “hukum kontradiksi” :A adalah non-A.
Sehingga yang khas dari logika hegel adalah didasarkan atas keyakinan adanya suatu sistensi yang di capai melalui proses dialektika : tesis, antitesis, sintesis.
2.Metode Dialektika
Dalam menjelaskan sistem filsafat Hegel, kurang begitu lengkap jika tidak menyinggung triadik Hegel: tesis, antitesa, dan sintesa. Namun, sebelum menjelaskan lebih jauh tentang ketiga hal ini, ada baiknya kita pahami walau selintas, istilah “ide” dan “dialektika” sebagai dasar pemahaman awal kita menuju pengertian tiga istilah di atas.
Sebagaimana tersirat dalam uraian sebelumnya, dialektika merupakan suatu “irama” yang memerintahkan seluruh filsafat Hegel. Menurut Llyod Spencer dan Andrzej Krauze, dialektika bukan merupakan “metode” atau suatu sistem yang prinsip, sebab yang menyebabkan ia begitu rumit untuk dijelaskan karena proses dialektika hanya mudah dimengerti dalam hal yang bersifat konkret. Barangkali karena alasan demikian , Hegel tetap bersikukuh pada keyakinannya bahwa antara “idealitas” dan “realitas” tidak ada perbedaan. Pengertian ini, oleh Hadiwijono, justru dipahami sebagai pengertian ontologis dialektika itu sendiri. Bahwa pengertian-pengertian dan kategori-kategori sebenarnya bukan hanya yang menyusun pemikiran kita, melainkan suatu kenyataan sebagai kerangka dan hakikat dunia dalam pikiran . Dengan demikian, dialektika dapat kita pahami sebagai usaha mendamaikan dan mengompromikan hal-hal yang berlawanan. Kendatipun lalu akan kita ketahui, bahwa sistem inilah yang akhirnya menjadi kelemahan Hegel karena terlalu memaksakan dialektika terhadap segala sesuatu. Dan dari sini, semakin nampak bahwa suatu perbedaan, pada hakikatnya akan menjadi ancaman serius dalam filsafat Hegel.
Hal yang membedakan dialektika Hegel dengan logika Klasik adalah pada logika klasik tidak dipercayainya prinsip kontradiksi, sedangkan dalam konsep dialektika Hegel dimungkinkan. Hegel percaya bahwa kontradiksi dialektik adalah titik sentral dalam pemahaman alam. Dan kontradiksi itu ia simbolkan melalui tri dealektik: tesis, antitesis, dan sintesis.
Dialektika dalam pengertian ini beleh dibilang sharring dengan suatu kualitas ituisi atas seluruh pengalaman langsung.
Pada tahap tesis, nuasa-nuasa belum memainkan peranan.di sini dalam suatu kesatuan yang tidak di pisahkan, terdapat masih banyak perbedaan bahkan pertentangan. Di dalamnya terdapat unsur-unsur positif dan negatif, akan tetapi unsur positifnya lebih banyak.
Untuk tahap anti tesis, dikemukakan suatu pertentangan yang radikalserta tidak bernuasa. Di dalamnya, ia mengandung lebih banyak unsur negatifnya dari pada positif, jikalau dibanding dengan tesisnya.
Sedangkan pada tahap sintesis, nuasa-nuasa dan pertentangan dan tesis serta antitesis mencapai kesatuan dan kebenaran yang diperhalus serta diperkaya. Di dalamnya segala unsur positif dari tesis dan antitesis disintesiskan menjadi suatu kesatuan yang lebih tinggi. Pada tahap ini , tesis dan antitesis bukan di batasi melainkan dirawat, disimpan dalam suatu kesatuan, serta di tempatkan pada daratan yang lebih tinggi dan tidak saling mengecilkan.


D. IDEALISME OBJEKTIF
Pusat filsafat Hegel ialah konsep Geist, bermakna “roh” atau “spirit”. Roh dalam pandangan Hegel adalah sesuatu yang real, konkret, kekuatan yang obyektif, menjelma dalam berbagai bentuk sebagai world of spirit (dunia roh), dan yang terdapat pada obyek-obyek khusus. Dalam kesadaran diri, roh itu merupakan esensi manusia dan esensi sejarah manusia (Tafsir, 2004: 152). Dengan demikian, kita bisa mengerti bahwa seluruh proses dunia merupakan suatu perkembangan Roh. Konsisten dengan hukum dialektika—akan dijelaskan nanti, perkembangan Roh senantiasa menuju kepada Yang Mutlak, tahap demi tahap (Hadiwijono, 2005: 101).
Lebih tegasnya, perkembangan Roh bisa dipetakan menjadi tiga tahap (Hadiwijono, 2005: 101-5). Pertama, roh subyektif, menjelaskan bahwa setiap orang masih bertaut erat dengan alam. Pada masa ini, roh mulai bergeser dari “berada-di-luar-dirinya” menuju “berada-bagi-dirinya”. Namun, karena ia belum benar-benar berpindah “bagi-dirinya”, karenanya ia tidak dapat ditukar dengan yang lain. Maksudnya, manusia masih sebagai bagian dari alam karena ia hanya menampakkan drinya sebagian, belum sepenuhnya.
Kedua, roh obyektif, menjelaskan bahwa bentuk-bentuk alamiah yang terkandung dalam roh subyektif diperluas, atau lebih tepatnya direalisasikan, ke dalam wilayah yang lebih konkret. Kehendak rasional yang tadinya besifat individual dibahasakan secara obyektif ke dalam bentuk yang lebih universal. Karena sebab inilah, roh obyektif lebih dominan mengandung unsur-unsur etika, misalnya kesusilaan, moralitas, dan hukum. Unsur-unsur etika dari roh obyektif tadi semakin menemukan tempatnya ketika terjadi pertemuan roh subyektif menuju tingkat yang lebih dewasa dalam keluarga, masyarakat, dan Negara, serta tentu saja sejarah; tempat ketiganya berkembang sebagai proses pertemuan antara idealitas dan realitas.
Begitu proses pertemuan antara idealitas dan realitas, yang terbahasakan dalam “Negara”, mengalami titik klimaksnya, maka Roh akan tiba di tahap paling puncak, Roh Mutlak, yaitu masa dimana Roh telah sungguh-sungguh “berada dalam dirinya dan bagi dirinya” secara utuh dan penuh. Kulminasi ketegangan antara roh subyektif (individu) dan roh obyektif (kekuasaan Negara) seketika lenyap melebur dalam Roh Mutlak. Bermuara dari asumsi ini, lalu Hegel menyebut filsafatnya dengan idealisme mutlak, sebagai peretas kulminasi ketegangan antara idealisme subyektif Fichte dan idealisme obyektif Schelling.

E.MEMPERGESER WACANA KEBERAGAMAN KITA
Inti fisfat sejarah hegel adalah bahwa ia memahami sejarah sebagai gerak perkembangan kearah kemerdekaan yang semakin besar. Dobrakan menentukan ditemukan hegel pada agama, yang dikonsentrasikan perhatiannya kepada agama Kristen.nilai manusia tidak terletak pada kualitas atau dalam unsure lahir, melainkan dalam sikap batin pribadi. Dengan demikian , manusia individuan memahami diri sebagai personal; artinya sebagai pusat pengertian dan kebebasan yang menggandung tanggung jawab pribadi. Setiap orang sebagai manusia bernilai pada dirinya sendiri.
Semula, kesadaran itu masih abstrak artinya hanya merupakan kepercayaan hakikat manusia dan panggilannya oleh Allah, tapi belum dalam wujud struktur-struktur social.
Kedua, kita selayaknya lebih tenan menggunakan metode dialog dalam memperbincangkan persoalan-persoalan keagamaan, bukan monolog karena dalam dialog, mau tidak mau perlu mempertimbangkan factor-faktor histories yang meliputi umat yang menjadi pemeluk agama.

F. KESIMPULAN
Hegel seorang rasionalis yang berasil menyempurnakan metode sintesis fithce dan schilling.dialektika yang ia perkenalkan lewat mekanisme tesis, antitesis, dan sintesis telah dipergunakan untuk mendekati persoalan-persoalan metafisika.secara dialektika, ia berhasil menjelaskan problematika ini lewat tri langkah; being, nothing, idea- nature- spirit, dan lain-lain.




DAFTAR PUSTAKA


Kattsof, Louis O, Pengantar Filsafat, yogyakarta: Tiara Wacana, 1995.
Zubaedi, Filsafat Barat, Jogjakarta: Ar Ruzz Media, 2007
Tafsir, Ahmad, Filsafat Umum, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003
http://marxists.org, 2008
http://plato.stanford.edu, 2008 
source

FILSAFAT G.W.F. HEGEL

 ALIRAN-ALIRAN DALAM FILSAFAT

Dalam perjalanannya, problem yang dihadapi oleh manusia makin kompleks, sehingga membutuhkan jawaban yang kompleks pula. Jawaban yang diberikan terhadap suatu problem tidak selalu dapat tuntas, bahkan kadang-kadang hanya sebagian kecil darinya yang terjawab dengan baik. Karena latar belakang yang berbeda-beda, baik dilihat dari manusianya maupun tantangan atau problemnya, maka berakibat juga pada beragamnya bagaimana suatu jawaban diberikan.
Oleh karena itu, suatu problem yang sama, karena dilihat dari berbagai sudut dan arah, menimbulkan jawaban yang berbeda. Timbullah bermacam-macam aliran dalam filsafat.
Manusia memegang peranan yang penting dalam munculnya aliran-aliran dalam filsafat. Pada hakikatnya, karena ia mempunyai unsur kejiwaan, yaitu cipta, rasa dan karsa, maka setiap orang dapat menghasilkan filsafatnya sendiri. Namun pada sisi yang lain, kenyataan menunjukkan bahwa hanya orang-orang tertentu yang dapat mengemukakan pendapat serta ajaran yang bernilai filsafati. Hambatan-hambatan yang ditimbulkan oleh kata dan susunan kalimat dalam suatu bahasa seringkali memaksa seorang filsuf untuk menyusun kalimat atau rangkaian kata baru semata-mata untuk bisa membuat representasi yang mendekati apa yang terkandung dalam pikirannya. Oleh karena filsafat merupakan hasil permenungan jiwa manusia yang terdalam, maka corak (sifat, khas) dalam tiap-tiap aliran tidak terlepas dari unsur-unsur yang menyusun manusia itu sendiri.
  1. Corak yang sesuai dengan unsur jiwa dan raga:
    Manusia terdiri atas jiwa dan raga, karenanya filsafat ada yang menintikberatkan atau mengagungkan jiwa atau memberi tempat yang tinggi kepada jiwa atau unsur-unsur dalam. Aliran yang termasuk jenis ini antara lain adalah:
    • Idealisme, yang memberi tempat tertinggi pada idea.
    • Spiritualisme, yang memberi tempat tertinggi pada jiwa.
    • Rasionalisme, yang memberi tempat tertinggi pada akal.
Sebaliknya, ada yang menempatkan unsur-unsur ragawi, unsur-unsur luar, sebagai yang tertinggi. Termasuk dalam aliran ini antara lain adalah:
    • Materialisme, yang memberi tempat tertinggi pada materi.
    • Empirisme, yang memberi tempat tertinggi pada pengalaman.
    • Sensisme, yang memberi tempat tertinggi pada panca indera.
  1. Corak yang sesuai dengan sifat individu dan sosial:
    Manusia memiliki sifat individu dan sosial, karena itu pengejawantahan dari sifat ini terlihat pula dalam corak aliran filsafat. Ada yang mengagungkan sifat individunya. Aliran yang termausk jenis ini antara lain adalah:
    • Individualisme, yang memberi tempat tertinggi pada individu.
    • Liberalisme, yang mengagungkan hak mutlak setiap individu.
Sebaliknya, ada yang mengagungkan sifat sosialnya. Termasuk dalam aliran ini adalah:
    • Altruisme, yang mengutamakan kepentingan orang lain semata-mata.
    • Sosialisme, yang mengutamakan kepentigan sosial lebih dari kepentingan individu.
  1. Corak yang menyangkut hubungan manusia dengan “Yang Mahakuasa”:
    Dalam hal ini, aliran di dalam filsafat ada yang bercorak teistik, ada pula yang ateistik. Misalnya, Tomisme memberi tempat yang tinggi kepada Tuhan, sedangkan Positivisme menolak teologi.
  2. Corak perpaduan:
    Karena ada aliran kefilsafatan yang menekankan atau mengagungkan salah satu unsur, maka terjadi jurang pemisah antara keduanya. Karena ada jurang pemisah itu, timbullah usaha untuk menghubungkan kedua sisinya yaitu dengan membuat jembatan. Beberapa contoh di antaranya adalah:
    • Immanuel Kant (lahir 1724 di Koningsbergen) berusaha menjembatani antara Rasionalisme dan Empirisme.
    • G.W.F. Hegel (lahir 1770 di Stuttgart) membuat jembatan antara pendapat Fichte dengan pendapat Friedrich Yoseph Schelling.
      Sistem fichte adalah idealisme subjektif, sedang Schelling adalah idealisme objektif. Jembatan yang dibuat oleh Hegel adalah idealisme absolut. Inilah bentuk metode dialektik Hegel yaitu Tesis-Antitesis-Sintesis. Karena Sintesis pada hakikatnya adalah suatu Tesis Baru, maka dari padanya akan timbul Antitesis baru, demikian pula akan timbul Sintesis Baru, dan seterusnya.
Pada bagian kali ini, kami akan mengangkat satu aliran filsafat yang sangat berpengaruh di Barat pada abad kedua puluh, terutama setelah selesainya Perang Dunia Kedua. Ialah “Eksistensialisme”. Pembahasan berikut ini akan menjadi model pembahasan bagi aliran-aliran filsafat lainnya; di mana kami secara rutin akan menambahkan materi-materi baru dalam bagian ini, sehingga, mudah-mudahan, seluruh aliran filsafat, utamanya aliran-aliran yang besar, mendapat kesempatan untuk disajikan ke hadapan pembaca.
Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang menekankan eksistensia. Para pengamat eksistensialisme tidak mempersoalkan esensia dari segala yang ada. Karena memang sudah ada dan tak ada persoalan. Kursi adalah kursi. Pohon mangga adalah pohon mangga. Harimau adalah harimau. Manusia adalah manusia. Namun, mereka mempersoalkan bagaimana segala yang ada berada dan untuk apa berada. Oleh karena itu, mereka menyibukkan diri dengan pemikiran tentang eksistensia. Dengan mencari cara berada dan eksis yang sesuai, esensia pun akan ikut terpengaruhi. Dengan pengolahan eksistensia secara tepat, segala yang ada bukan hanya berada, tetapi berada dalam keadaan optima. Untuk manusia, ini berarti bahwa dia tidak sekadar berada dan eksis, tetapi berada dan eksis dalam kondisi ideal sesuai dengan kemungkinaan yang dapat dicapai. Dalam kerangka pemikiran itu, menurut kaum eksistensialis, hidup ini terbuka. Nilai hidup yang paling tinggi adalah kemerdekaan. Dengan kemerdekaan itu, keterbukaan hidup dapat ditanggapi secara baik. Segala sesuatu yang menghambat, mengurangi, atau meniadakan kemerdekaan harus dilawan. Tata tertib, peraturan, hukum harus disesuaikan atau, bila perlu, dihapus dan ditiadakan. Karena adanya tata tertib, peraturan, hukum dengan sendirinya sudah tak sesuai dengan hidup yang terbuka dan hakikat kemerdekaan. Semua itu membuat orang terlalu melihat ke belakang dan mengaburkan masa depan, sekaligus membuat praktik kemerdekaan menjadi tidak leluasa lagi.
Dalam hal etika, karena hidup ini terbuka, kaum eksistensialis memegang kemerdekaan sebagai norma. Bagi mereka, manusia mampu menjadi seoptima mungkin. Untuk menyelesaikan proyek hidup itu, kemerdekaan mutlak diperlukan. Berdasarkan dan atas norma kemerdekaan, mereka berbuat apa saja yang dianggap mendukung penyelesaian proyek hidup. Sementara itu, segala tata tertib, peraturan, hukum tidak menjadi bahan pertimbangan. Karena adanya saja sudah mengurangi kemerdekaan dan isinya menghalangi pencapaian cita-cita proyek hidup. Sebagai ganti tata-tertib, peraturan, dan hukum, mereka berpegang pada tanggung jawab pribadi. Mereka tak mempedulikan segala peraturan dan hukum, dan tidak mengambil pusing akan sanksi-sanksinya. Yang mereka pegang adalah tanggung jawab pribadi dan siap menanggung segala konsekuensi yang datang dari masyarakat, negara, atau lembaga agama. Satu-satunya hal yang diperhatikan adalah situasi. Dalam menghadapi perkara untuk menyelesaikan proyek hidup dalam situasi tertentu, pertanyaan pokok mereka adalah apa yang paling baik yang menurut pertimbangan dan tanggung jawab pribadi seharusnya dilakukan dalam situasi itu. Yang baik adalah yang baik menurut pertimbangan norma mereka, bukan berdasarkan perkaranya dan norma masyarakat, negara, atau agama.
Segi positif yang sekaligus merupakan kekuatan dan daya tarik etika eksistensialis adalah pandangan tentang hidup, sikap dalam hidup, penghargaan atas peran situasi, penglihatannya tentang masa depan. Berbeda dengan orang lain yang berpikiran bahwa hidup ini sudah selesai, yang harus diterima seperti adanya, dan tak perlu diubah, etika eksistensialis berpendapat bahwa hidup ini belum selesai, tidak harus diterima sebagai adanya, dan dapat diubah, bahkan harus diubah. Ini berlaku untuk hidup manusia sebagai pribadi, masyarakat, bangsa, dan dunia seanteronya. Dalam arti itulah hidup dimengerti sebagai proyek. Orang yang memandang hidup sebagai sudah selesai, mempunyai sikap pasrah dan “menerima”, sementara kaum eksistensialis yang memahami hidup sebagai belum selesai mempunyai sikap berusaha dan berjuang. Hidup ini perlu dan harus diperbaiki. Faktor penting untuk perbaikan hidup itu adalah tanggung jawab. Setiap orang harus bertanggungjawab atas hidupnya dan dengan sungguh-sungguh berupaya untuk mengembangkannya. Bagi orang yang merasa hidup sudah jadi, situasi hidup menjadi sama saja. Tidak ada situasi penting, mendesak, atau genting. Karena hidup selalu berjalan normal. Namun, bagi kaum eksistensialis yang memahami hidup belum selesai, setiap situasi membawa akibat untuk kemajuan kehidupan. Oleh karena itu, setiap situasi perlu dikendalikan, dimanfaatkan, diarahkan sehingga menjadi keuntungan bagi kemajuan hidup. Akhirnya, bagi orang yang menerima hidup sudah sampai titik dan puncak kesempurnaannya, masa depan tidak amat berperan karena masa depan pun keadaannya akan sama saja dengan masa yang ada sekarang. Namun, bagi kaum eksistensialis yang belum puas dengan hidup yang ada dan yang merasa perlu untuk mengubahnya, masa depan merupakan faktor yang penting. Karena hanya dengan adanya masa depan itu, perbaikan hidup dimungkinkan dan pada masa depan pula hidup baik itu terwujud. Dengan demikian, gaya hidup kaum eksistensialis menjadi serius, dinamis, penuh usaha, dan optimis menuju ke masa depan.

Eksistensialisme

Dalam filsafat dibedakan antara esensia dan eksistensia. Esensia membuat benda, tumbuhan, binatang dan manusia. Oleh esensia, sosok dari segala yang ada mendapatkan bentuknya. Oleh esensia, kursi menjadi kursi. Pohon mangga menjadi pohon mangga. Harimau menjadi harimau. Manusia menjadi manusia. Namun, dengan esensia saja, segala yang ada belum tentu berada. Kita dapat membayangkan kursi, pohon mangga, harimau, atau manusia. Namun, belum pasti apakah semua itu sungguh ada, sungguh tampil, sungguh hadir. Di sinilah peran eksistensia.

Eksistensia membuat yang ada dan bersosok jelas bentuknya, mampu berada, eksis. Oleh eksistensia kursi dapat berada di tempat. Pohon mangga dapat tertanam, tumbuh, berkembang. Harimau dapat hidup dan merajai hutan. Manusia dapat hidup, bekerja, berbakti, dan membentuk kelompok bersama manusia lain. Selama masih bereksistensia, segala yang ada dapat ada, hidup, tampil, hadir. Namun, ketika eksistensia meninggalkannya, segala yang ada menjadi tidak ada, tidak hidup, tidak tampil, tidak hadir. Kursi lenyap. Pohon mangga menjadi kayu mangga. Harimau menjadi bangkai. Manusia mati. Demikianlah penting peranan eksistensia. Olehnya, segalanya dapat nyata ada, hidup, tampil, dan berperan. Adapun tanpa eksistensia, segala sesuatu tidak nyata ada, apalagi hidup dan berperan
Namun, oleh pandangan-pandangan yang terkandung di dalam dirinya, segi-segi positif etika eksistensialis itu menjadi berkurang positifnya. Kelemaham-kelemahan etika eksistensialis dapat disebut beberapa. Pertama, etika eksistensialis terperosok ke dalam pendirian yang individualistis. Dengan pendirian itu, di bawah nama melaksanakan proyek hidup, bisa-bisa para pengikut aliran eksistensialis hanya mencari dan mengejar kepentingan diri. Karena yang baik ditentukan sendiri, bukan berdasarkan norma, maka yang dianggap baik bukanlah kebaikan sejati, melainkan baik menurut dan bagi diri mereka sendiri. Cara memandang kebaikan yang individualistis itu dapat merugikan sesama, masyarakat dan dunia.
Kedua, dengan mengabaikan tata tertib, peraturan, hukum, kaum eksistensialis menjadi manusia yang anti-sosial. Tidak dapat disangkal bahwa ada norma masyarakat yang sudah usang. Namun, menyatakan segala norma tak berlaku sungguh melawan akal sehat. Karena norma masyarakat merupakan hasil perjalanan pencarian yang tidak begitu saja mudah ditiadakan. Jika tidak dapat dipergunakan sepenuhnya, paling sedikit masih dapat bermanfaat sebagai bahan pertimbangan dan titik tolak pencarian nilai hidup lebih lanjut. Kecuali itu, sikap para penganut aliran eksistensialis yang asosial merugikan usaha perbaikan hidup dan dunia. Karena usaha itu merupakan usaha raksasa sehingga tidak dapat diselesaikan secara perorangan, melainkan harus digarap bersama seluruh masyarakat.
Ketiga, dengan mengambil sikap bebas merdeka, kaum eksistensialis memandang kemerdekaan sebagai tidak terbatas. Padahal, dalam hidup ini tidak ada kemerdekaan yang tanpa batas. Karena dalam perwujudannya selalu akan dibatasi. Pembatasan itu berasal dari si pelaksana sendiri dan masyarakat. Seberapa “hebat”-nya manusia, tidak mungkinlah dia mampu mewujudkan kemerdekaannya secara penuh. Pembatasan juga datang dari masyarakat. Selama orang hidup dakam masyarakat, pelaksanaan kemerdekaan akan selalu dibatasi oleh pelaksanaan kebebasan orang lain. Mau tidak mau, dalam hidup masyarakat orang harus mau “memberi” dan “menerima”, alias berkompromi.
Keempat, kaum eksistensialis amat memperhitungkan situasi. Namun, situasi itu mudah goyah. Kelemahan ini masih diperkuat oleh sikap individualistis yang dipegang kaum eksistensialis. Bila orang bersandar pada situasi dan diri sendiri saja, pandangannya menjadi terbatas, lingkup perbuatannya dipersempit, dan pendiriannya rapuh. Begitulah, etika eksistensialis memiliki unsur-unsur kebaikan yang positif. Namun, bila tak mengurangi dan melepaskan kelemahan-kelemahannya, eksistensialisme akan melemahkan arti dan sumbangan-sumbangannya yang memang berharga.
Nama “eksistensialisme” memang hanya disenangi oleh Jean Paul Sartre. 
source 
Filsuf-filsuf lain dari aliran ini lebih senang disebut “filsuf-eksistensi”. Di antara mereka adalah S. Aabye Kierkegaard (1813-1855), Friedrich Nietzsche (1844-1900), Karl Jaspers (1883-1969), Martin Heidegger (1889-1976), Gabriel Marcel (1889-1973) dan M. Merleau-Ponty (1908-1961). 

BEBERAPA ALIRAN DALAM FILSAFAT

MANUSIA,KEBEBASAN,DAN AGAMA


MUQADDIMAH
 Manusia terdiri dari
bagian fisik yang disebut raga,serta bagian yang immateriil yang disebut
Ruh.Keduanya merupakan komposisi yang ideal dan sempurna yang telah Tuhan
ciptakan. Manusia dianugrahi potensi yang tidak dimiliki makhluk lainnya yakni
akal-fikiran,yang mampu membedakan antara manusia dengan bukan manusia. Manusia
bukan ciptaan yang merupakan hasil evolusi genetik yang di fikirkan oleh
Charles Darwin,namun manusia merupakan makhluk yang diciptakan tanpa harus
mengalami proses seperti itu.
 Manusia memiliki kebebasan
sebagai hak yang melekat pada dirinya,kebebasan merupakan wujud eksistensi
manusia didunia. Kebebasan menurut para kaum Libertarian dibagi menjadi dua
yakni kebebasan privat dan publik. Sedangkan ahli dzikir (baca:agamawan)
menyebut bahwa kebebasan manusia didunia ialah terbatas,dan dibatasi oleh
aturan Tuhan.Meskipun begitu, yang jelas seluruh pakar sepakat bahwa manusia memiliki
kebebasan dalam hidupnya.
 Agama sebagai sebuah
aturan Tuhan, yang teramktub dalam sebuah kitab suci,dan pemeluknya dinamakan
umat beragama. Manusia seyogyanya merupakan umat beragama,lain halnya ketika
dirinya memutuskan untuk tidak beragama. Sesungguhnya dalam hal ini,memang akan
muncul sensitifitas pada diri manusia terkait agama yang dianutnya,meskipun
penulis menganggap bahwa manusia yang beragama atau ber-Tuhan merupakan manusia
yang utuh. Manusia yang sesuai fitrah. Perkara akan terjadi pluralisme
beragama,sebenarnya merupakan salah satu konsekuensi logis saja

PEMBAHASAN
 Manusia merupakan mahluk
unik yang diciptakan didunia.Sudah cukup banyak para ahli yang melakukan
penelitian terkait manusia dari proses perkembangannya,pola interaksi,hingga
pada tataran manusia dan hubungannya dengan Tuhan.
 Para sejarawan,yang
berkutat pada suatu problematika religiusitas yang bila dihubungkan dengan
manusia sebagai objek,memang cukup menarik untuk diamati.Para filsuf yang tak
ketingggalan dalam melakukan perumusan dasar berdasarkan paradigma berfikir
mereka,tentang manusia dan Tuhan,serta hubungan antara keduanya.Sementara para
agamawan yang juga sempat membuat suatu perumusan dasar yang diambil
berdasarkan kitab sucinya masing-masing mencoba memaparkan hakekat manusia
menurut Tuhan,bukan hanya menurut pandangan rasio semata. Disini Tuhan turut
berperan dalam mendefinisikan manusia.Dan definisi itu merupakan sebuah
definisi yang pasti,meskipun dengan beberapa tafsiran yang merupakan bentuk
intrepretasi seseorang semata.
 Agama menurut sebagian
pemikir merupakan sebuah kondisi yang timbul akibat interaksi masyarakat yang
terjadi,sementara menurut Geertz agama itu tidak terlepas dengan sistem budaya
setempat,sehingga pengaruh agama sangat kental pada struktur masyarakat yang
terjadi. Sementara Marx dengan mudahnya mengatakan bahwa agama merupakan sebuah
sistem yang mengekang daya kreatifitas manusia,serta melakukan legalitas atas
kedzaliman pada manusia didunia,seperti yang dilakukan oleh kaum borjuis kepada
proletariat pada masyarakat Eropa,pada saat keemasan revolusi industri. Maka
tak elak lagi,disaat agama merupakan candu yang mesti dibasmi dalam kehidupan
manusia.
 Meskipun pandangan ini
masih cenderung moderat dibandingkan hasil konstruksi Nestzche terkait agama
dan Tuhan,yang telah dinafikan secara besar-besaran dari jiwanya,nyaris tak ada
tempat.
 Pada zaman sekarang,apa
yang menjadi peran penting agama dalam kehidupan umat manusia? Bagaimana
seharusnya yang dilakukan manusia terhadap agama yang merupakan sebuah sistem
yang dipercaya mampu menjadi ‘partner’ atau sistem yang berfungsi  sebagai pengatur kehidupan manusia?
 Manusia secara fitrah,mampu
memperoleh apa yang diinginkannya melalui sebuah usaha atau perilaku yang
timbul atas nalurinya, melalui pola interaksi dengan sesamanya,atau dunia lain
yang berada diluar jangkauan akal.Manusia akan senantiasa membutuhkan
itu.Seperti ketika seseorang merasa sangat kehausan,maka dia akan mencari
sumber air yang mampu menghilangkan dahaga.Begitu pula agama,yang berperan
sangat penting dalam eksistensi manusia didunia.Meskipun ada beberapa ahli
fikir,yang sedikit menafikan hal itu.
 Seperti yang dikemukakan
oleh E.B Tylor terkait definisi agama sebagai sebuah keyakinan terhadap sesuatu
yang spiritual.Sehingga menurutnya esensi dari agama,baik agama kuno maupun modern
ialah kepercayaan terhadap sesuatu yang hidup dan punya kekuatan yang ada
dibalik sesuatu.Menurutnya animisme merupakan bentuk kepercayaan tertua
didunia. Agama itu tidak terlepas dengan unsur mistisisme,dan magis bagi agama
purba yang berkembang ratusan tahun silam.
 Dan juga menurut Sigmund
Freud,seorang psikolog-filsuf atheis,menganggap agama merupakan sebuah bentuk
takhayul,namun menarik. Dia memang seorang atheis tulen semasa hidup hingga
matinya. Sesuatu yang transedental dianggapnya merupakan omong kosong yang tak
berguna. Lebih ekstrim lagi dia menganggap bahwa agama akan menjadi penyakit
syaraf yang mengganggu manusia sedunia,senada dengan Marx,bahwa agama adalah
candu sosial.
 Emil Durkheim,seorang
sosiolog barat yang mencoba meneliti esensi agama sebagai sebuah sistem yang
tak terpisahkan dalam kehidupan manusia,bahkan merupakan bagian integral dari kebudayaan
(culture) masyarakat setempat. Menurutnya agama merupakan sistem kepercayaan
dengan perilaku-perilaku yang utuh dan selalu dikaitkan dengan ’Yang Sakral’,yaitu
sesuatu yang terpisah dan terlarang.Dalam hal dia memang cenderung lebih sopan
dalam mendefinisikan agama, bersifat positif, serta tidak terburu-buru dalam
menjustifikasi kegagalan peran agama dalam kehidupan manusia.
 Agama merupakan
kompleksitas sistem yang tegak diatas dokrin dan kepercayaan.Ajaran yang
berwatak spiritual, supernatural, transeden, mistis, serta jauh dalam
pembuktian klaim teoritis. Meskipun disisi lain,ada agama atau sistem
kepercayaan tertentu yang mengalami kemajuan pesat dari segi kuantitatif,karena
dinilai cukup logis dan ilmiah. Tapi disisi lain ada beberapa agama yang
’terpaksa’ berevolusi atau gugur dengan sendirinya karena tidak mampu menjawab
realitas sosial kontemporer manusia modern.
 Dari sini muncul sebuah
study kritis perihal urgensi agama sebagai tata nilai kehidupan dengan manusia
sebagai objek/pelaku kehidupan.
Manusia sebagai mahluk monodualistik menurut
Prof.Dr.Notonegoro (Guru Besar Emiritus Filsafat UGM). Manusia sebagai mahluk
hidup yang terdiri atas dua bagian yang mendasar yakni jasmaniah serta ruhiyah
yang menyatu dalam satu kesatuan yang utuh. Semuanya saling membutuhkan,saling
bersinergi, guna menghasilkan harmonisasi yang seimbang diantara keduanya.
Dikarenakan mereka secara kodrati memang senantiasa menyatu,sebagai wujud eksistensi
manusia didunia.Apabila salah satunya pergi atau mengalami kematian,maka yang
terjadi ialah menusia yang tidak utuh kembali atau disebut mayat.
Manusia sebagai makhluk dwitunggal, merupakan
sebuah pernyataan Prof.Dr.Driyarkara (Bapak Filsuf Nusantara), manusia terdiri
atas roh dan materi, memang senada dengan Notonegoro, disisi lain masih menurut
beliau bahwa, manusia menurut kodratnya merupakan makhluk pribadi (person), yang
memandang yang lain, ”bukan pribadi”, sehingga disana akan muncul sebuah
interaksi antara ”Aku-Engkau”, dan bersifat percaya saling mempercayai. Keluhuran
manusia sebagai pribadi adalah terletak pada kedaulatan atas diri sendiri
(Driyarkara tentang Manusia:33).
Sementara dengan kebebasan manusia yang sampai
saat ini masih cukup banyak diperdebatkan oleh para ahli fikir bahkan ahli
dzikir (baca:agamawan) pun mulai mempertanyakan kembali,hakekat kebebasan pada
diri manusia, bahwa sejauh mana sebenarnya manusia memiliki kebebasan/kemerdekaan?
Apa makna kebebasan/kemerdekaan,itu sesungguhnya?
Kebebasan merupakan sebuah tindakan atau perbuatan
yang muncul atau bermula dari kehendak untuk melakukan. Sementara menurut
Prof.Dr Driyarkara,seorang filsuf Indonesia kontemporer,menulis dalam bukunya
bahwa kemerdekaaan atau kebebasan merupakan kekuasaan untuk menentukan diri
sendiri untuk berbuat atau tidak berbuat (Driyarkara tentang Manusia:60).
Kebebasan merupakan hak individu untuk
menggunakannya atau tidak, tidak ada seorang pun yang mampu untuk memaksa
seseorang terkait kebebasan yang dimilikinya. Manusia memiliki sebuah kemauan
serta dorongan untuk melakukan,sehingga kebebasan muncul dari kedua hal itu.
Sebagai contoh riil, ketika seorang yang bertumbuh gemuk,dia memiliki kemauan
untuk kurus,maka akan tercipta dorongan untuk mengurangi jatah makannya sehari
itu.Disanalah muncul kebebasan dia untuk melakukan hal itu.Atau ketika ada
pasangan hidup memiliki keinginan untuk memiliki anak lebih dari dua,maka
disana akan muncul dorongan untuk berusaha,dan disana pastilah muncul kebebasan
diantara keduanya untuk meiliki anak dengan jumklah tiga atau enam sekalipun,asalkan
akan muncul sebelumnya kesepakatan diantara keduanya.
Kebebasan merupakan hal mendasar yang dimiliki
manusia selaku insan berakal. Suatu kebebasan akan berbanding lurus dengan
tanggung jawab yang akan diterima oleh dirinya secara pribadi maupun kelompok.
Maka,sebenarnya manusia dituntut untuk berfikir sebelum bertindak,sebagai usaha
untuk meminimalisir resiko yang terjadi akibat salah dalam menggunakan hak
kebebasan yang dia miliki. Sesungguhnya,cukup banyak para filsuf modern maupun
kontemporer dalam mendiskusikan masalah kebebasan pada diri manusia.Keseluruhannya
memiliki paradigma berfikir yang berbeda. Perbedaan yang mendasar akan tercipta
manakala definisi kebebasan versi Liberaterianisme dengan kebebasan versi
Marxisme-Leninisme,namun dikala kedua aliran tersebut coba dibenturkan dengan
para ahli dzikir (baca:agamawan) maka akan lebih nampak jelas perbedaan yang
sangat signifikan.
Kaum Liberaterian, lebih membagi kebebasan privasi
dengan publik,yang diantara keduanya mestilah jelas terdefinisi,tidak bias.
Sementara kaum Marxisme-Leninisme,lebih memandang kebebasan dari sudut
pembagian kelas antara kaum borjuis dengan kaum proletariat,menurut mereka
sudah saatnya proletariat memiliki kebebasan yang sama dengan kaum borjuis
sehingga kelak, akan memunculkan kondisi tanpa kelas. Lain halnya dengan para
ahli dzikir yang memandang kebebasan berdasarkan definisi kitab suci yang mereka
miliki.Umumnya mereka memandang bahwasanya tidak ada kebebasan mutlak pada diri
manusia didunia ini,karena manusia hidup didunia senantiasa terikat oleh aturan
Tuhan yang absolut,yang termanifestasi pada intitusi agama,sebagai badan
eksekutif serta yudikatif atas aturan Tuhan.
Pada abad pertengahan,nampak jelas aturan Tuhan
menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan tata kehidupan manusia
didunia.Terlihat jelas dominasi Gereja sebagai institusi resmi dan terpusat
agamawan Nasrani,memiliki ototritas penuh atas politik pemerintahan kala itu.
Sedangkan Islam memiliki sistem Khilafah Islamiyah, sebagai sebuah bentuk
pemerintahan yang melaksanakan syariat ilahi, dan disana tidak ada lembaga legislatif,
dikarenakan kedaulatan ada pada kuasa Tuhan.Memang muncul perbedaan yang
mendasar diantara keduanya,namun disana sebenarnya dapat ditarik sebuah
kesimpulan bahwa aturan kala itu benar-benar dijadikan konstitusi pokok atas sistem
politik oleh para penguasa,sebelum akhirnya mulai terjadi pemberontakan untuk
mengganti sistem aturan Tuhan yang dinilai terlalu teokratis dengan bentuk yang
lebih demokratis,dengan kebebasan sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam hal
ini.
Manusia sebagai makhluk yang memiliki kesadaran
serta fitrah untuk ber-Tuhan serta beragama/berkepercayaan,sebenarnya secara
sadar pula dia menganggap bahwa kebebasan penuh pada dirinya telah dikorbankan
setengah,disebabkan aturan Tuhan yang membatasi hal itu.Dirinya pastilah merasa
bahwa segala perilaku,serta tindakan selama didunia akan senantiasa diawasi
oleh Tuhan,dan disanalah sesungguhnya memunculkan kesadaran bahwa kebebasan
penuh merupakan sesuatu yang mustahil dimiliki manusia.
Kondisi seperti itu sebenarnya merupakan sesuatu
yang logis. Manusia akan lebih menyadari bahwa akan muncul akibat atas
kebebasan yang kelak dia coba gunakan,seperti: sebenarnya manusia memiliki
kebebasan untuk bunuh diri,tapi disatu sisi resiko atau balasan apa yang kelak
dia akan terima atas perbuatannya itu. Maka disana akan terbersit sebuah
kondisi dimana mulai mengenal alam akherat. Kebebasan manusia sesungguhnya akan
berimplikasi pada kehidupannya dialam akherat,itulah prinsip manusia beragama.
Peran agama sangatlah penting dalam tindakan dan
perilaku manusia didunia.Tidak lain dan tidak bukan,secara langsung agama akan
mempengaruhi manusia dalam setiap langkah dan ucapnya. Kebebasan disini menjadi
sesuatu yang tidak terlalu banyak dituntut dikarenakan manusia memiliki sebuah
keyakinan yang mendasar bahwa hidup ini tidak kekal. Manusia modern sebenarnya
mulai membutuhkan peran agama kembali sebagai sesuatu yang penting dan
mencerahkan.Meskipun tidak sedikit manusia yang melarikan diri dari pengaruh
agama,bahkan harus rela keluar dari agamanya hanya karena mencari segengam
kebebasan semu yang hendak dia miliki.
Pada dirinya akan merasa disaat setelah lepas,maka
kebebasan itu akan diperoleh lebih banyak dan tidak terlalu disibukkan dengan
problematika agama maupun aturan-aturan dogmatis lainnya,yang bersifat absolut.
Disini sebenarnya,memunculkan sebuah pertanyaan mendasar,bahwa benarkah dirinya
seorang manusia yang utuh?Karena penulis disini sepakat bahwa sesungguhnya
manusia memiliki fitrah untuk beragama atau sekalipun dia hanya memiliki
kepercayaan kepada ”Yang Sakral”(meminjam istilah Durkheim) sekalipun.
Banyak faktor memang disaat sebagian manusia mesti keluar dari agama atau kita
sebut atheis,bisa jadi manusia merasa trauma secara psikologis atau merasa
kecewa dengan keputusan Tuhan (Takdir), manusia merasa puas dengan hasil
penemuannya yang merasa bahwa Tuhan tidak turut campur sama sekali dalam hal
ini,sehingga ia berani untuk keluar dari komunitas orang yang ber-Tuhan dan
otomatis tak ber-agama. Dan masih banyak lagi.
Manusia, beserta kebebasannya dan agama sebagai
sebuah aturan dalam tata kehidupan didunia,sesungguhnya merupakan komposisi
yang utuh pada setiap individu manusia. Gerak dan tindakan manusia merupakan
kebebasan yang menjadi haknya, namun disisi lain agama akan berperan penting
dalam mempengaruhi kebebasan manusia tersebut. Manusia yang bijak ialah disaat dirinya
telah mampu untuk berfikir logis terhadap urgensi dan korelasi positif agama
dalam kehidupan sehari-hari,bukan hanya menilai agama dari prilaku-perilaku
individu yang lain,namun ajaran-ajaran yang termaktub dalam kitab suci
merupakan bagian yang pokok dalam memahami esensi dan urgensi agama bagi
manusia.
Kehidupan manusia sesungguhnya akan bernilai
tinggi disaat manusia mampu memahami tentang hidup.Mencoba memahami tentang
hakekat manusia tidak hanya bertanya kepada ahli fikir semata,namun disamping
telah menunggu para ahli dzikir yang lebih mampu untuk memberikan pemahaman
terkait hakekat atau hikmah yang terkandung pada dirinya selaku manusia yang
berakal serta kehidupan yang menjadi bagian yang penting. Menjadikan potensi
yang dimiliki manusia berupa kebebasan menjadi sarana untuk menggapai sebuah
pemahaman positif tentang Tuhan, agama, serta kehidupan. 

Sayyid Abdullah Ahmad al-Kahfi
(Student of Philosophy
Faculty,Gadjah Mada University)
Yogyakarta
Referensi
§ Dekonstruksi Kebenaran.Daniel L.Pals
§ Driyarkara tentang
Manusia.Prof.Driyarkara.Yayasan Kanisius
§ Manusia Pascamodern,Semesta,dan Tuhan. Y.B
Mangunwijaya. Kanisius

MANUSIA,KEBEBASAN,DAN AGAMA