Saturday, March 5, 2011

, ,

FOTO FOTO KONSER A MASTERPIECE OF ERWIN GUTAWA




Erwin Gutawa adalah pekerja keras dan ia punya kemauan keras hingga mencapai titik seperti ini,” begitu legenda pop Indonesia, Vina Panduwinata berkomentar sebelum ia memasuki Plenary Hall, tentang musisi kelahiran Jakarta, 16 Mei 1962 yang merupakan salah satu tokoh penting dalam lintas sejarah musik pop di Indonesia itu.
Sudah lebih dari tiga dekade ia berkontribusi pada perkembangan musik di Indonesia, bahkan mengharumkan nama bangsa ke kancah dunia (misalnya; menjadi penata musik terbaik di Midnight Sun Song Festival, Finladia bersama Ruth Sahanaya tahun 1992 dan konduktor orkestra untuk konser penyanyi Malaysia, Siti Nurhaliza di Royal Albert Hall, London, 2005).
Musisi, komposer, penata musik, produser dan kini lebih dikenal sebagai konduktor ini, memulai karir bermusik di usia belia. Selain sudah terlibat di album legendaris Badai Pasti Berlalu dan beberapa kelompok musik di akhir 70-an dan awal 80-an, ia turut membidani banyak ikon pop Tanah Air, seperti Alm. Chrisye, Ruth Sahanaya, January Christy, Yuni Shara, dan Katara Singers.
Sabtu (26/02), Erwin yang didukung 90 pemain musik elemen orkestranya dan jajaran penyanyi lintas generasi, menggelar konser untuk ketiga kalinya bertajuk A Masterpiece of Erwin Gutawa di Plenary Hall, Jakarta Convention Centre.
Konser dibuka dengan sesi etnik tradisional menampilkan penyanyi Lea Simanjuntak dan Gabriel Haryanto. Nuansa etnik tersuguhkan melalui karya Guruh Soekarnopoetra, ‘Janger Saka’ dan ‘Chopin Larung’ dengan aransemen unik musik Bali. Pengalaman panjang Erwin dalam menata musik—baik rekaman maupun live—sungguh terasa buktinya dalam konser tadi malam. Meski musik didominasi lagu-lagu berkarakter medley, aura keindahan aransemen hasil tangan dingin Erwin membuat konser tidak terasa monoton.
Setelah sang konduktor menyapa penonton, mantan vokalis grup Dewa, Once Mekel dihadirkan sebagai suguhan kedua. Tahun lalu, tembang daur ulang karya Robby Lea, ‘Simfoni yang Indah’ yang dinyanyikan Once, meraih penataan musik terbaik di ajang AMI 2010, dan Erwin lah penata musiknya. Lalu vokalis Incognito, Dira Sugandhi membuka sesi panas ‘bernuansa’ slow jazzy. Pitch vocal Dira menembangkan lagu ber-dwi bahasa dari hit Ruth Sahanya, ‘Kaulah Segalanya’ (T. Sumarsono).
Panggung berubah cukup drastis, setelah grup rock Kotak menjadi pewarna selanjutnya dari konser megah yang didukung semburan tata lampu yang menakjubkan itu. Selain komposisi ‘Rock Bergema’, yang pernah mengisi album Erwin Gutawa Rockestra, Kotak juga membawakan hit sendiri, ‘Beraksi’ yang mengakhiri penampilan mereka. Energi vokal Tantri mampu memanaskan suasana.
Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, dan Gita Gutawa memang mewarisi bakat sang ayah. Remaja cantik itu hadir setelah Kotak. Ia berduet dengan sang papa di piano akustik menyanyikan tembang yang pernah dipopulerkannya bersama Ada Band, ‘Yang Terbaik Bagimu’, lalu ada ‘Parasit’ serta karya Andra & Stevi Item, ‘Sempurna’.
Popularitas Erwin Gutawa sulit dilepaskan dari instrumen yang paling dikuasainya, bass. Dan melalui empat bassis lintas generasi ; Yance Manusama, Indro Hardjodikoro, Barry Likumahuwa dan Fajar Adi Nugroho, Erwin menyuguhkan memorinya bersama band Karimata melalui ‘Sketsa’ dan ‘Lima’. Drummer muda Demas Narawangsa meningkahi sesi fusion jazz yang diisi sahut-menyahut bunyi keempat bas. Sesi ini diakhiri adegan humorik para bassist yang berebut memetik bas yang dimainkan satu sama lainnya.
Sesi kemudian dilanjutkan oleh blues singer yang populer di Jerman, Sandhy Sondoro. Erwin Gutawa menyampaikan sebuah tribute speech; “Karya-karya grup Koes Plus itu sederhana dalam lirik maupun musiknya, namun bermakna dalam,” dan lagu yang aslinya medium tempo, Andaikan Kau Datang, disulap Erwin menjadi tembang mellow nan menawan penuh orkestrasi melalui vokal Ruth Sahanaya di album A Tribute to Koes Plus tahun 2000-an lalu. Sandhy kini menyanyikannya melalui vokal seraknya itu. Masih dalam kerangka medley, Sandhy menutup kontribusinya untuk konser ini dengan Bunga di Tepi Jalan (Yon Koeswoyo), kali ini Sandhy ditantang meliuk-liukkan nyanyian.
Usai nuansa kebangsaan terkini hadir lewat cuplikan musikal Laskar Pelangi, Afghan dan Vidi Aldiano membuat penonton di area festival histeris. Sesi ini menyuguhkan medley sejumlah nomor dari album Badai Pasti Berlalu yang dilatari montase foto-foto dan potongan rekaman bersama Chrisye. Untukku (Y Widianto), Andai Aku Bisa (Bebi & A Dhani) dan Seperti yang Kauminta (Pongky Jikustik) mendengungkan nyanyi bersama penonton, tiada henti.
Erwin Gutawa juga pernah banyak mengaransir tembang dalam album solo Vina Panduwinata. Dan malam itu, salah satu hit-nya, Cinta (Chrisye/ Adjie Sutama) dilantunkan vokalis mellow, Rossa. Erwin juga menaruh ‘Cinta’ karya Titiek Puspa untuk melanjutkan lagu tadi. Dua sesi penutup konser ini menghadirkan dua legenda; Waljinah dan Iwan Fals, masing-masing satu sesi. Walang Keke (NN) menjadi daya tarik sesi keroncong melalui duet Waljinah dan Sruti Respati. Dan Iwan Fals yang kini juga menginjak fase baru bermusiknya, juga tampak nyaman untuk bernyanyi dengan orkestra Erwin Gutawa. Ia melantunkan Izinkan Aku Menyayangimu (R. Roeslan) dan hit awal 90-an, Mata Dewa (Fals & S. Jodi).
Konser yang dipromotori KG Production dan Dyandra Production ini berakhir sekira pukul 23.00 WIB, artinya durasi karya besar musikal Erwin Gutawa ini nyaris 2,5 jam. Sekitar 4.000-an penonton tak pulang dengan wajah kecewa. Setelah karya-karya sebelumnya; Erwin Gutawa Concert 2002, Konser Chrisye; Dekade 2003, Erwin Gutawa Salute to Koes Plus 2004, Konser 3 Diva 2005, Siti Nurhaliza di London 2005, dan kini A Masterpiece, musisi sekelas Erwin yang dedikasi dan pengalamannya tak bisa diragukan lagi, konser semalam tak berkesan menjadi sebuah ‘karya besar’ terakhirnya. Ia akan terus berkarya. Salute to him!

artis-artis pendungkung atau yang lebih sering disebut Erwin Gutawa sebagai ‘tamu,’ mereka adalah Iwan Fals, Sandhy Sondoro, Afgan, Dira Sugandi, Lea Simanjuntak, Kotak, dan juga putri Erwin Gutawa, Gita Gutawa. Ketika ditanyakan tanggapan para artis pendukung tersebut mengenai konser ini, beberapa artis seperti Afgan, Sandhy Sondoro, dan Kotak, kompak menjawab bahwa mereka langsung mengiyakan ketika diajak Erwin Gutawa untuk berkolaborasi dalam konsernya nanti. Artis-artis tersebut malah sampai khusus mengosongkan jadwal mereka untuk mempersiapkan diri di konser ini. Di konser "A Masterpiece Of Erwin Gutawa" kali ini akan dipersembahkan karya-karya terbaik milik Erwin Gutawa sepanjang perjalanan karirnya. Dan bukan hanya karya-karya masterpiece yang di aransemen ulang oleh Erwin Gutawa, tetapi juga akan menampilkan 90 anggota orchestra, 40 penari latar, dan juga paduan suara dari Impromptu. "A Masterpiece Of Erwin Gutawa" akan dilaksanakan di JCC Plenary Hall pada tanggal 26 Februari mendatang. Tiket yang tersedia dijual dengan harga 300 ribu rupiah untuk kelas termurah dan 1.750.000 untuk kelas Platinum nya.  "Saya merasa bangga karena dari pihak Kompas Gramedia dan Dyandra Production memberikan saya kesempatan untuk membuat konser ini," ucap Erwin Gutawa seraya menyunggingkan senyum bahagianya.

Didukung 90 musisi orkestra, tata panggung, lampu dan tata suara terbaik, serta sederet penyanyi berkualitas Tanah Air, konser sang maestro Erwin Gutawa yang bertajuk 'A Masterpiece of Erwin Gutawa' yang digelar Sabtu (26/2/2011) di Plenary Hall Jakarta Convention Center ini mampu menyihir ribuan penonton untuk tak beranjak dari tempat duduknya hingga acara usai.

Jam menunjukkan sekitar pukul 20.30 WIB. Tirai putih yang tadinya berfungsi sebagai layar terbuka sepenuhnya, pertanda konser dimulai. Riuh tepuk tangan 3000 lebih penonton "mengawal" Erwin Gutawa yang dengan gagah memimpin orkestra di bawah ratusan sorot lampu beraneka warna. Unsur etnik khas Bali terasa kental diramu Erwin sebagai pembuka konsernya.

Suasana terasa megah kala lagu 'Menjilat Matahari' milik Yockie Suryoprayogo dimainkan. Kemudian, penonton diajak bernostalgia ke era 70-an ketika Lea Simanjuntak dan Gabriel B Harvianto berduet membawakan ‘Chopin Larung’ ciptaan Guruh Soekarno Putra yang amat populer pada masa itu.

Mantan vokalis Dewa 19, Elfonda Michael pun mendapat giliran tampil. Lagu 'Simphony yang Indah' karya Robby Lea yang dibawakannya pun mendapat tepuk tangan meriah dari penonton. Penampilan penyanyi yang akrab disapa Once ini pun tak disia-siakan dominasi kaum hawa untuk mengabadikan gambarnya lewat kamera ponsel. Cuek, walaupun ada larangan dari panitia untuk tidak mengambil gambar selama konser berlangsung.

Usai Once, tembang lawas 'Kaulah Segalanya' milik Tito Soemarsono dibawakan Dira Sugandi dengan mantap. Penonton pun terlihat amat menikmati penampilan atraktif penyanyi yang biasa membawakan lagu-lagu jazz ini.

Semakin larut, suasana malah makin panas. Panggung kemudian diguncang Tantri 'Kotak' lewat lagu 'Jangan Ada Angkara' yang populer dibawakan Nicky Astria. Kemudian disusul dengan 'Rock Bergema' dan 'Beraksi'. Musik rock ala anak muda dipadu dengan orkestra menjadi sangat menarik di sini.





Erwin kemudian turun dari singgasananya sebagai konduktor dan memainkan piano. Ternyata, kepiawaiannya bermain piano diperlihatkannya sambil mengiringi Gita Gutawa menyanyikan lagu 'To be One' juga lagu lagu hits lain puterinya itu seperti 'Ayah', 'Do Bee Do' dan 'Parasit'. Lagu 'Tak Kuduga' yang diciptakan Erwin semasa pacaran dulu dengan istrinya pun turut dibawakan Gita. "Boleh nggak Pa, Gita kalo pacaran nyiptain lagu juga?" canda Gita di sela-sela penampilannya yang kemudian disambut tawa Erwin dan penonton.

Permainan bass yang biasanya jarang dimainkan dalam sajian orkestra pun mendapat tempat spesial dalam acara ini. Betotan bass Barry Likumahuwa, Indro, Yance Manusama dan Fajar Adi Nugroho membius penonton larut dalam alunan musik jazz yang menawan.

Tak ketinggalan pula penyanyi solo, Sandhy Sondoro yang sedang bersinar, membawakan lagu legendaris yang dipopulerkan 'Koes Plus' di eranya. Sandy menyanyikan 'Why Do You Love Me', 'Andaikan Kau Datang Kembali' dan 'Bunga di Tepi Jalan' yang dibawakan agak sedikit nge-blues.

Musikal Laskar Pelangi yang pernah dibawakan oleh Erwin juga ikut memeriahkan suasana. Erwin juga mengangkat apresiasi kepada legenda musik Indonesia, Chrisye. Cuplikan kenangan musisi yang telah tiada ini juga ditampilkan dalam bentuk visual diiringi lantunan lagu-lagu Chrisye yang dibawakan Afgan Syahreza dan Vidi Aldiano.

Penyanyi cantik Rossa pun tampil anggun dengan balutan gaun berwarna merah muda. Ocha, panggilan akrabnya, tampil penuh penghayatan membawakan lagu 'Cinta' milik Titiek Puspa dan Vina Panduwinata yang juga hadir pada malam itu.

Belum habis sampai disitu, kejutan datang dengan tampilnya legenda musik keroncong Indonesia, Waljinah yang tampil membawakan lagu 'Walang Kekek' yang segar dipadu iringan orkestra. "E… ya ye…, ya ye…ya…E ya…yae…yai, e yaiyo yaiyo" koor penonton kompak menyanyikan bagian refrain lagu tersebut.

Iwan Fals ternyata didaulat menutup konser akbar yang berakhir sekitar pukul 23.10 WIB tersebut. Kehadirannya ternyata mampu menjadi magnet tersendiri bagi para penonton. Iwan tampil sederhana mengenakan kemeja putih lengan panjang senada dengan celana jeans yang dikenakannya. Para penonton pun larut bernyanyi bersama dalam lagu 'Mata Dewa', 'Ijinkan Aku Menyayangimu' dan 'Satu-satu'.





kompas.com



0 comments:

Post a Comment